Pewarnaan jaringan lunak di dalam rongga mulut ada bermacam-macam penyebabnya. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter gigi terdekat sehingga dapat dilakukan perawatan yang terbaik. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas pewarnaan yang berkaitan dengan penggunaan rokok, yakni “melanosis perokok” atau smokers melanosis. Melanosis perokok adalah pewarnaan jaringan lunak yang tidak jarang terjadi, saya pun sering menemui kondisi ini pada pasien yang memiliki kebiasaan merokok.
Bagaimana tampilan klinis dari melanosis perokok?

Melanosis perokok memiliki tampilan berupa pigmentasi kecokeltan, berbentuk irreguler asimetris, dengan tepian yang tidak tegas/ difus, flat dengan gingiva. Kondisi ini paling sering ditemui di gusi daerah labial gigi seri dan gigi taring, sera mukosa bukal. Orang dengan melanosis perokok pada umumnya memiliki bau mulut khas perokok.
Terdapat kondisi lain yang tampilan menyerupai melanosis perokok, yakni pigmentasi fisiologis. Pewarnaan mukosa ini merupakan suatu kondisi yang normal pada kelompok rasial tertentu, pada umumnya pada kelompok dengan warna kulit gelap. Kondisi ini dapat dibedakan dengan melanosis perokok melalui anamnesa bahwa pewarnaan yang terjadi dalam rongga mulut sudah ada sejak lahir, sehingga tidak berhubungan dengan kebiasaan merokok.
Bagaimana melanosis perokok dapat muncul?
Penyebabnya masih tidak dapat dipastikan dengan jelas, namun berkaitan dengan kebiasaan merokok dapat dari bahan kimianya (nikotin) ataupun panas yang dihasilkan rokok yang menstimulasi pigmentasi. Pigmentasi yang terjadi adalah pengendapan melanin pada lapisan sel basal.
Apa solusi untuk kondisi ini?
Kondisi ini bukan suatu kondisi keganasan. Pada umumnya seiring berhentinya kebiasaan merokok, pigmentasi kecokelatan akan memudar dan hilang dalam hitungan tahun.